The Day of Atonement


Episode Keluaran tidak hanya dimulai dengan tragedi tetapi juga dihiasi dengan peristiwa yang menyedihkan. Israel sebagai umat pilihan sungguh tak tahu diri. Mereka bertikai dengan Tuhan, sang Pembebas yang welas asih. Di tengah situasi kritis tersebut, Musa menunjukkan diri sebagai pemimpin sejati. Mewakili umat, Musa memohon belas kasihan sang Penebus. Maka kisah Israel dengan Tuhan pun berlanjut, memasuki babak baru lewat Kitab Imamat.
Di akhir Kitab Keluaran, kisah Israel dengan Tuhan seperti digantung: akankah Tuhan bertabernakel di antara umat-Nya? Kitab Imamat memberikan jawabannya. Lewat kitab itu kita mendapati bahwa Yahweh Elohim memutuskan untuk tetap hadir di antara umat-Nya yang kerap memberontak itu. Mengapa? Karena perjanjian-Nya dan kasih-Nya. Namun, di sisi lain, keadilan Allah tidak mungkin diabaikan. Setiap dosa dan pemberontakan harus dihakimi. Tuhan tidak kompromi bahkan terhadap satu titik pelanggaran. Jadi, bagaimana menyelesaikan hal ini?
Kitab Imamat mungkin cenderung untuk dilewatkan karena dirasa tidak menarik atau tidak penting. Sesungguhnya kitab ini perlu dibaca dan penting. Lewat kitab ini kita mendapat jawaban mengapa Tuhan yang suci dapat hadir di antara umat-Nya yang tak lekang dari kesalahan (baca: berdosa). Tontonlah dua video Bible Project yakni Read Scripture: Leviticus dan The Book of Leviticus: Overview. Kedua video tersebut akan memaparkan keindahan dan keunikan Kitab Imamat bagi Anda.
Singkat cerita, Kitab Imamat menggambarkan sejumlah ritual pembersihan, aturan moral hidup umat Allah yang menjadi bagian dari sistem imamat (priesthood) yang disyaratkan Tuhan. Dengan sistem tersebut, umat Allah diberikan kesempatan untuk berhadapan dengan Tuhan setelah melewati sejumlah ritual penyucian. Tidak hanya itu, Tuhan pun berjanji tidak akan mengingat lagi dosa mereka lewat ritual korban penanggung dosa yang mencapai puncaknya pada perayaan Yom Kippur (The Day of Atonement).
Yom Kippur merupakan hari paling suci di antara seluruh ritual dan perayaan Israel. Dilakukan hanya sekali setahun. Sebagaimana dilukiskan dalam Imamat pasal 16, ini adalah momen bersejarah karena Imam Besar diperbolehkan masuk ke dalam Ruang Mahasuci. Seremoni ini sangat khusyuk dan menuntut ketelitian serta kesungguhan di dalam pelaksanaannya. Dalam upacara Yom Kippur ini, Imam Besar akan mengambil dua ekor kambing jantan yang tak bercela untuk menjadi korban penghapus dosa dan pendamaian. Apa maksud ritual ini? Untuk menunjukkan kepada Israel bahwa Allah yang suci menuntut keadilan-Nya atas dosa mereka. Harus ada pertumpahan darah bagi setiap kesalahan dan pelanggaran mereka. Alih-alih tercurah atas mereka, murka Allah dinyatakan pada hewan yang menjadi korban penghapus dosa tersebut. Apakah hewan yang dikorbankan itu dapat menanggung dosa kita? Tentu saja tidak. Semua hal itu adalah simbol dari sebuah peristiwa penting yang akan datang: Kalvari.
Kalvari adalah Yom Kippur yang sesungguhnya. Yesus Kristus adalah Anak Domba Allah yang menanggung dan menghapus dosa umat-Nya. Dialah yang telah meminum cawan murka Allah untuk kita. Dialah yang memikul kesalahan, pelanggaran, cela, dan semua dosa kita agar kita memperoleh pendamaian dengan Allah.
Sebentar lagi kita akan merayakan Jumat Agung dan Paskah. Sejauh mana kita makin memahami pengorbanan Yesus atas diri kita? Siapkah kita menyambut peristiwa terbesar sepanjang sejarah ini?
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2Kor. 5:21)
Ev. Maya Sianturi Huang
Kepala SMAK Calvin
April 2017



Source : http://www.buletinpillar.org/ponder/the-day-of-atonement
Share on Google Plus

About Hobs News

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts